BANDUNG,LENTERAJABAR.COM- Popong Otje Djundjunan ,anggota MPR/DPR RI dari Partai Golkar megungkapkan kegundahan menyikapi dengan sistem pendidikan yang ada di Indonesia saat ini yang lebih mengutamakan kepintaran (kognisi) dari pada karakter dan ahlak.
Menurut tokoh Jawa Barat ini,seharusnya pendidikan itu mamakai filosofi Sunda, Cageur, Bageur, bener dan Pinter. Pinter itu di urutan terakhir. Sekarang pinter lebih diutamakan, sementara lainnya kurang perhatian,” ujarnya di Bandung, Selasa (19/9).
Kondisi ini membuat karakter sebagian masyarakat kurang mendapatkan porsi dalam pendidikan, khususnya di lingkungan sekolah. Seharusnya menurut Ceu Popong, demikian akrab dipanggil, perkuat dulu karakter yang baik agar menjadi sehat dalam berfikir.
Lebih lanjut dikatakan ceu Popong sapaan akrabnya,sekarang banyak orang pintar, tapi coba lihat pinternya dipakai untuk nipu, korupsi, karena tidak cageur dan bageur,” ujarnya.
Pendidikan dahulu masih mengajarkan PMP, P4, GBHN bahkan pendidikan sejarah atau PSPB. Namun semua itu dihilangkan pasca reformasi. Kondisi yang terasa saat ini menurutnya karena tidak adanya lagi pelajaran itu di sekolah.
“Sekarang ada badan yang mengurusi Pancasila, terlambat, tapi bagus. Nggap apa-apa terlambat yang penting sekarang ada lagi,” tegasnya.
Ia menambahkan, perlunya lagi untuk menambahkan pelajaran PMP dan PSPB karena mengajarkan tentang kebenaran sejarah kepada siswa dan masyarakat.
“Juga GBHN itu harus ada, menjadi arah pembangunan. Siapa sopirnya, mobilnya apa, nah sekarang kan tidak ada. Harus ada lagi,” tuturnya.(Red)